Apakah kelak password tidak akan berguna lagi? Banyaknya kasus pembobolan password, dan adanya mekanisme enkripsi password, membuat orang bertanya demikian. Itu juga yang sudah dipikirkan banyak pakar keamanan dalam beberapa tahun terakhir. Isu itulah yang dibahas dalam sebuah studi yang dilakukan firma Deloitte Touche Tohmatsu.
Studi tersebut menyatakan, apabila setiap user menggunakan password yang terdiri dari 8-12 karakter, akan mempersulit para peretas mengekstraknya, sebab menghasilkan ribuan hingga jutaan tebakan password. Namun, tidak semua orang bisa mengningat password yang panjang, atau rajin memperbarui password secara rutin, sehingga tetap saja lebih suka memakai password yang mudah diterka.
Namun ilmuwan komputer asal Cambridge berpendapat lain. Menurut mereka, password akan tetap dipakai. Masalahnya lebih terletak pada malasnya orang melakukan implementasi alogaritma enkripsi. “Persoalannya bukan pada daya ingat manusia, melainkan user memilih untuk membiarkan verifikasi pasword menjadi mudah diterka alias murahan,” komentar Joseph Bonneau dalam risetnya, Light Blue Touchpaper.
Proses pembobolan password kini sudah semakin cepat. Nyaris semua web melakukan enkripsi pada informasi username dan password dengan cara menjalankan alogaritma matematika. Password yang lebih panjang dan rumit akan membuat software pembobol password lebih lama bekerja.
Tidak semua website rajin melakukan upgrade ke sistem alogaritma yang lebih baru. Inilah salah satu faktor yang membuat password mudah diretas. Jadi, mudahnya password user dibobol, bukan semata kesalahan user yang bodoh, melainkan juga kesalahan sistem keamanan yang “murahan” tersebut.
Nah, apakah Anda tergolong user yang malas membuat password rumit dan terdiri dari banyak karakter? Sebaiknya segera mulai rajin membuat password yang sulit diterka, sebab tidak semua website punya sistem keamanan yang baik.
Sumber artikel: TechNewsDaily /


0 comments:
Post a Comment